Posted on October 13th, 2009 in yani...yani...yani... by yani

Mudik…..Mudik…. (dan Suka Dukanya)

Yak…Bulan Ramadhan telah tiba. Alhamdulillah kali ini masih diberi nafas dan umur untuk merasakan dan melalui bulan Ramadhan (lagi). Ini adalah Ramadhan keduaku jauh dari rumah :(

Sebagai seorang perantau, satu hal yang pasti udah difikirkan adalah BERBURU TIKET! Yak itulah dua kata yang selalau terngianga-ngiang dan diwanti-wanti oleh para perantau, bahkan jauh sebelum Ramadhan tiba. Itu semua dilakukan hanya untuk satu tujuan –> MUDIK!!!!!!!

“MUDIK” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berkategori verba (kata kerja) dan memiliki makna:      (1) (berlayar atau pergi) ke udik; (2) pulang ke kampung halaman (ragam percakapan). Dalam kaitannya dengan lebaran, tentu makna kedua lebih tepat.

Kata Pak Umar Kayam: dulu MUDIK merupakan tradisi primordial masyarakat petani Jawa yang sudah ada jauh sebelum Kerajaan Majapahit. Kegiatan itu dulu digunakan untuk membersihkan pekuburan atau makam leluhur, yang disertai upacara doa bersama kepada dewa-dewa di kahyangan. Tujuannya, agar para perantau diberi keselamatan dalam mencari rezeki, sementara keluarga yang ditinggalkan tak dirundung petaka.
Tetapi setelah pengaruh agama Islam masuk ke tanah Jawa, tradisi tersebut berangsur-angsur terkikis, karena dianggap sebagai perbuatan yang sia-sia dan masuk dalam katagori syirik. Meski demikian, peluang kembali ke desa setahun sekali itu muncul kembali lewat momentum Idul Fitri.
Lalu, kenapa kita tetap pantang menyerah dan tetap menjadi PeJuAnG MuDik??????? Meskipun pada kenyataannya MUDIK itu……
a. BOROSSSS karena….
Kita bakalan harus membeli tiket yang selangit harganya (minimal 2 kali lipat dr harga hari biasa*itupun kalo dapet tiket), harus menyiapkan uang lebih untuk bagi-bagi ke saudara, harus punya bekal uang yang lebih dr cukup karena bakalan terjadi kegiatan konsumsi yang luar biasa.
b. Menguras Pikiran & Tenaga karena……..
Harus diakui bahwasannya untuk berburu tiket saja sudah membuat kita pusing. Tahun lalu saja saya pusing mencari link orang ‘dalam’ KA* untuk mendapatkan tiket kereta, tanya-tanya temen yang sudah menjadi pejuang mudik senior, dan membuat list alternatif transportasi mudik. Hufff….. belum lagi memikirkan anggaran biaya yang kalo dihitung-hitung gaji sebulan gak cukup *masya alloh* Ditambah lagi hati dag-dig-dug was-was kalo permohonan cuti kita ada kemungkinan ditolak atasan. Kyaaaa… ~curhat~
c. Beresiko Mengorbankan Ibadah karena……
Yak, sebagian dr kita harus mengaku saja kalo perjalanan mudik beresiko membuat puasa kita batal (meskipun utk kondisi tertentu diperbolehkan dlm syariat kalo terbentur keadaan). Apalagi kalo pilihan transportasi yang digunakan memprihatinkan (e.g. kereta ekonomi, kapal ekonomi, bus ekonomi)~alhamdulillah saya blm pernah mengalaminya sih, semoga tidak.     Paling tidak sebagian besar dr kita pasti mengorbankan sholat (read: dijamak ato malah ditinggalkan???Oh No…) karena terbentur keadaan di jalan. Semoga kita masih tergolong umat yg mengutamakan sholat dimana aja ya prens.
Mengingat dan menimbang kenyataan di atas, pastinya melakukan MUDIK tidaklah mudah. tetapi mengapa hampir semua perantau (khususnya yg msh bujang) merelakan berjuang untuk pulanga kampung??? Mungkin kira-kira inilah alasannya.
Karena MUDIK itu………..
1. Mengobati Rasa Kangen
Berkat mudik kita ketemu dengan orang tua pastinya, adek, kakak, saudara-saudara baik dekat maupun jauh, dan tentunya calon pendamping (bagi yg sudah punya). Bahkan dijadikan ajang reuni dengan teman dan kawan lama.
2. Menjadi Terapi Batin yang Ampuh
Ketika kita senantiasa berada pada rutinitas kerjaan dan kota yg ruwet, belom lagi ditambah stress akibat tekanan atasan maka kita akan mengalami tekanan psikologis (sadar ataupun tidak). Untuk menyembuhkan penyakit itu, kita harus bersunyi-sunyi dengan pergi ke daerah yang tenang, damai, dan jauh dari hiruk-pikuk persoalan duniawi. Pendek kata, kita perlu melepaskan penat tersebut dengan rileks, curhat atau bersilaturahmi/mengunjungi karib dan kerabat terdekat.
Maka ketika mudik, segala beban itu cair seketika, karena menatap wajah-wajahorang-orang yang kita cintai, penuh kasih sayang, dan tanpa pamrih. Begitu hendak kembali ke tempat kerja, semangat telah pulih kembali. Harapan untuk bertemu kembali dengan mereka di kampung halaman di tahun berikutnya menjadi motivasi bekerja keras dan mengumpulkan uang guna mudik kembali.
3. Menjadi Pengingat “Sangkan Paraning Dumadi”
Mudik menjadi sarana pengingat “sangkan paraning dumadi” atau asal-usulnya. Kalo kata CAK NUN para Pemudik itu sedang memenuhi tuntutan sukmanya untuk bertemu dan berakrab-akrab kembali dengan asal-usulnya.
Singkatnya, mereka berusaha berikrar bahwa ia berasal dari suatu akar kehidupan: komunitas etnik, keluarga, sanak famili, bapak-ibu, alam semesta, serta berpangkal (dan berujung) di Allah SWT melalui runtutan akar historisnya. Kesadaran seperti itu tampak dari para pemudik yang berusaha sedapat mungkin berada di tengah-tengah keluarga, sebelum salat Idul Fitri.
4. Momen Unjuk Diri
Untuk point ini saya tidak recommended sih. Cuman mengungkapkan fakta yang ada di sekitar. Para pemudik ada yang berlomba-lomba menunjukkan eksistensi keberhasilannya di perantauan kepada orang-orang di kampung halaman. Pada gilirannya hal ini akan menimbulkan kecemburuan sosial. Selain itu, budaya pamer ini tidak jarang menimbulkan disharmoni yang mengganggu kesahduan Idul Fitri itu sendiri.
Jadi untuk point ini jangan dijadikan alasan untuk Mudik yah…
Itulah sekilas kupas kupas tentang Mudik. Meskipun banyak tantangannya, pada kenyataanya MUDIK justru menjadi kegiatan yang ditunggu-tunggu. Mungkin karena manfaat mudik mampu mengalahkan perjuangan dan tantangannya.
Alhamdulillah saya sudah mendapatkan tiket untuk pulang sebelum Ramadhan dan sepertinya ijin cuti saya disetujui. *sujud sukur* Horey….!!!!!!!!!!!!! :D
Semoga moment Mudik nanti bisa memberikan kita semangat untuk lebih mencintai keluarga dan orang-orang terkasih serta menjadikan motivasi bagi kita para perantau untuk lebih Sukses dan Membanggakan lagi. Amiin…
16/8/2010
from many sources

Dia Tetaplah Dia

Di matamu masih tersimpan, selaksa peristiwa                                                                                                                                             Benturan dan hempasan terpahat di keningmu                                                                                                                                                   Kau nampak tua dan lelah, keringat mengucur deras                                                                                                                                           Namun kau tetap tabah                                                                                                                                                                                       Meski nafasmu kadang tersengal, memikul beban yang makin sarat                                                                                                                     Kau tetap bertahan…

Itulah sepenggal bait dari lagu Ebiet G.Ade “Titip Rindu Buat Ayah”. Setelah mendengar lagu ini, mata saya langsung berkaca-kaca. Rasanya mungkin campur aduk. Merasa rindu dengan kehadiran orang tua sekaligus merasa sangat bersalah karena apa yang pernah saya pikirkan tentang mereka.

Kita mulai dengan ibu. Ibuku dulunya adalah seorang pegawai salah satu perusahaan swasta di Jogja. Meski pendidikan terakhirnya hanyalah SMA, Ibu dengan gemilang bisa meraih posisi staf Quality Control di perusahan penghasil bola lampu itu, sejajar dengan rekan-rekannya yg tamatan diploma dan sarjana. Kerja kerasnya untuk karir, memang telah membawanya ke posisi maksimal untuk levelannya. Tentunya, perjalanan karirnya tak selamanya mulus. Berbagai hambatan baik personal maupun profesional, pastinya sudah sering dialami Ibuku. Mungkin karena terkuras untuk fokus di pekerjaan, aku dan adik-adik memang jarang berinteraksi dengan Ibu. Ibu pergi kerja pagi, paling lambat jam 7.30. Pulang sore, paling cepat setengah 6. Otomatis sebagian besar waktu kami, jarang kami habiskan dengan Ibu. Bahkan malampun, Ibu tidak pernah mendongeng untuk kami, seperti halnya adegan-adegan di sinetron maupun gambaran Ibu modern di TV. Ibu hanya seringkali pulang dengan wajah yang sangat capek dan murung. Ibu juga tak pandai memasak. Kalau mbah yang bantuin masak di rumah gak ada, maka kamipun akan dengan otomotis mencari indomie di kardus dan sebutir telur di kulkas untuk dimasak. Telur dan mie, itulah menu andalan kami. Kalaupun malas memasak, maka kamipun cukup meminta uang untuk membeli makanan di luar. Ibu juga jarang terlibat di kegiatan pendidikan kami. Ibu tidak pernah datang mengambil raport sekolah karena masih di kantor, Ibu juga jarang sekali mengantar dan menjemput kami sekolah karena masih jam kerja. Ibu jarang menemani kami mengerjakan PR PR sekolah. Kalau ada kesulitan, biasanya kami akan bertanya kepada mbak-mbak tetangga kami.

Dulu aku berfikir, Ibu kurang memperhatikan kami. Meski Ibu telah banting tulang menghidupi dan memberikan segala kebutuhan kami, tapi rasanya esensi ke-Ibuan jarang aku dapatkan. Mungkin waktu itu, aku terlalu mendambakan sosok Ibu yang ideal buat aku.

Baru setelah merantau, aku tahu artinya perjuangan. Pikiran tentang ketidakpuasan peran Ibu dalam hidupku lama-lama berubah menjadi kerinduan dan rasa haru. Ibu memang tak pandai di dapur tapi Ibu adalah seorang pekerja keras. Masa lalunya yang serba sulit telah menekadkan hatinya untuk berusaha keras menjadikannya mampu untuk menghidupi kami. Dia tak akan pernah ingin kami merasakan keadaan sulit; sulit makan, sulit sekolah, sulit jajan, sulit beli buku, sulit berobat seperti dia di masa lalunya. Dulu, aku hanya merasakan keberadaan Ibu ya sebagai Ibu, perempuan yang melahirkanku. Tiap kali mataku terpejam, mengingat masa kecilku dengan Ibu yang muncul hanyalah memory bagaimana Ibu mencubit pantatku kalau aku nakal dan muka capek dan kusamnya begitu tiba di rumah.

Tapi sekarang, meski tak sepenuhnya bisa memiliki hubungan yang sangat dekat tapi aku kini lebih menghormati Ibu, lebih bisa memahaminya. Bukan hanya karena dia adalah Ibu kandungku. Tapi karena ke”tulusan”nya telah menjadi Ibuku selama 26 tahun ini. Aku tahu, sebenarnya Ibu juga dulu tak ingin sepenuhnya menjadi sangat sibuk hingga jarang berada di sisi kami. Aku tahu, sebenarnya Ibu juga ingin pandai memasak seperti Ibu-Ibu yang lain. Aku tahu, ketidakpahamannya akan pentingnya kebersamaan dengan anak-anaknya adalah karena dia juga dulu sangat jarang mendapatkan kasih sayang Ibunya juga. Masa lalunya yang sulit dan keras telah menjadikannya wanita yang tangguh, bahkan karena tangguhnya cenderung membentuk kasih sayang yang kaku. Tetapi aku tahu, semua yang dimilikinya tak lain hanyalah untuk kami, anak-anaknya.

Itulah perasaanku kini terhadap Ibu. Aku menyesal pernah berfikir salah tentang Ibu. Maaf ya Bu. Aku terlalu menganggap hidup ini ’simple’ hingga tak pernah mencoba melihat faktor lain dan latar belakang akan sikapmu. Ternyata hidup ini sangat rumit, tapi kau telah menjadikannya ’simple’ di mata kami.

*Loph u mom*

Titik Batas

Apakah Anda juga mengalami pergi ke kantor setiap jam 6.30 dan pulang malam selama 20 hari setiap sebulan? Apakah Anda juga harus berkali-kali menjawab dengan sabar pertanyaan atasan meski pertanyaan tersebut juga sudah berkali-kali ditanyakan? Apakah Anda juga harus setiap saat bersikap ramah pada klien dan atasan apapun sikap mereka? Apakah Anda juga harus setiap saat siap melakukan pekerjaan-pekerjaan yang itu-itu saja setiap waktu? Jika ya, lalu apakah Anda pernah memiliki keinginan untuk lepas dari semua itu??

Saat ini mungkin saya sedang berada pada titik jenuh dengan segala rutinitas yang saya lakukan, baik di kantor, maupun di tempat kost. Saya merasa mudah bosan, mudah marah, mudah tersinggung, mudah jengkel, mudah iri, mudah berfikir negatif. Semuanya itu membuat saya merasa sangat tidak nyaman melakukan hal apapun. Dicandain teman sekantor, tersinggung. Dengar bos yang ngomong teriak-teriak tanpa beranjak dari ruangan, sebel (meski saya udah tahu kebiasaan ini dan biasanya cuek aja). Denger temen, mo married, cemburu. Denger temen gak masuk tapi tetep aja nitip absen, jengkel. Pulang kost gak ada siapa-siapa, sedih. Padahal semua itu biasanya masih berada dalam wilayah toleransi saya sehingga sayapun tak merasa keberatan dengan keadaan tersebut.

Rasa-rasanya segala hal di sekeliling saya tak kompromi dengan keinginan ego dalam diri saya. Saya merasa kebiasaan orang-orang di sekitar kita itu salah. Merasa sangat kesepian. Merasa sangat sedih dengan keadaan yang saya harus hadapi. Saya merasa sudah sampai di titik batas kesabaran dan ketoleransian saya :(

Kehampaan ruang di sudut hati saya, membuat saya ingiiiin sekali menyendiri. Saya ingin menepi dari semua kebisingan dan rutinitas. Ingin berhenti melakukan hal-hal yang seperti kaset terputar kembali. Saya ingin diam sejenak.  Diam dari segala perdebatan, dari segala obrolan yg sia-sia, diam dari segala bentuk pertanyaan yg harus dijawab. Saya ingin berhenti. Berhenti dari rutinitas ini.

Saya sebenarnya rindu. Rindu kehangatan keluarga. Rindu kasih sayang pasangan saya. dan sangat rindu berdialog dengan-Nya.

14/12/09

Banyak itu Berapa?

Dulu sewaktu SD, aku dapat uang saku Rp 300,- per hari. Itu sudah cukup banyak karena aku bisa membeli makanan ringan favoritku “mie kremez” seharga Rp 100,- dan jajan-jajan cemilan tradisional ala mbok kantin sekolah (e.g. mlinjo goreng, talas goreng) seharga Rp 50,- . Aku merasa Rp 300,- sudah banyak (sewaktu SD).

Dulu waktu SMP, aku pegang uang sehari Rp 1500,- Biasa digunakan untuk naik bis Rp 300,- beli makan soto yg rasanya asin doank (karena pulang ampe sore jadinya kepepet beli kalo pas gak bawa bekal dr rumah) seharga Rp 1.000,- Kadang masih bisa pegang sisanya kalau berhemat gak tergoda jajan-jajan ini tu. Rp 1.500 udah banyak buatku waktu itu.

Dulu sewaktu SMU, aku dapat uang saku Rp 3.000,- per hari. Hanya buat jajan aja coz berangkat-pulang ke sekolah on foot alias jalan kaki. Biasanya uang saku dipake buat jajan gorengan martabak kesukaanku yg hanya berisi “kubis” dg harga Rp 500,- beli nasi goreng Rp 1.500 atau kalo agak mewah makan mie ayam sekolah favorit dg harga Rp 2.000,- . Uang Rp 3.000,- udah lebih dari cukup buat memenuhi hasrat konsumerismeku (versi anak SMU waktu itu).

Dulu sewaktu kuliah, aku dapat uang saku bulanan Rp 100.000,- Biasa buat beli bensin utk menggerakkan motor tua “prima” ku, fotocopy bahan-bahan kuliah yg berlembar-lembar, jajan seperlunya di kampus (krn harganya gak sebanding dg rasanya, makanya aku jarang jajan di kampus), ato kadang-kadang makan siang bareng ma temen-temen kampus di warteg dg menu ala vegan ato kalo agak mewah dikit pecel lele/ayam-an.

Dulu sewaktu kerja part-time mengajar sembari kuliah, penghasilan Rp 150.000,- per bulan sangat banyak untukku. Lebih dari cukup buat beli baju baru merk agak mentereng buat kelas menengah di saat-saat musim discount tiba. Waktu itu penghasilan Rp 150.000 - Rp 200.000,- udah berasa kayak pegang duit sedunia bisa beli apa aja. Bisa buat nraktir pacar, kelaurga, ato kadang2 juga temen-temen. Bisa buat makan mewah (versiku) bersama pasangan di Waroeng Steak kesayanganku di Jogja.

Dulu waktu kerja di sebuah universitas swasta di Jogja, penghasilan pertama saat masa percobaan (di atas UMR dikit) udah berasa kayak dapet uang undian. Apalagi pas dapet gaji full (hampir 3x UMR jogja) udah berasa kayak bisa menghidupi diri sendiri n bagi2 sedekah ma yg laen meski dikit.

Dulu waktu awal2 kerja di sini, setelah dikasih tau (tanya sana-tanya sini) bakal dpt gaji berapa di t4 kerja sekarang, rasanya bakal bisa beli ini-itu, kasih sono-kasih sini, simpen sono-simpen sini.

Setelah benar2 mendapatkan gaji yg dijanjikan, rasanya…..biasa aja…. Teori “kepuasan” menurut pakar ekonomi ternyata berlaku pada diriku saat itu bahwasannya “Tingkat kepuasan makin lama akan making berkurang akan suatu barang”. Dengan banding sono-banding sini, saya sempat berfikir rasanya apa yg aku terima saat ini berasa tak seberapa lagi. Yg aku pikirin: Ah…rasanya kok kurang banyak ya…. , masak cuman dapet segini????? Yg lain dapet segitu???? Kok gini sih???

Beberapa saat kemudian, aku bercerita dg Bapakku yg berprofesi sebagai seorang “Tailor” alias penjahit. Pak, aku dapet segini. Dan reaksinya adalah: “Alhamdulillaaaah….Dengan begitu, ada jalan untuk menyelesaikan masalah itu ( kebetulan saat itu, Bapak benar-benar membutuhkan apa yg telah aku dapat untuk keperluan usahanya).

Ya Alloh…. Maafkan aku karena ak sempat tak bersyukur atas segala nikmat yg Kau berikan. Memang manusia takkan pernah berhenti untuk mendapat kepuasan atas materi yg “banyak”. Dan sering kali manusia (termasuk aku) mengabaikan bahwasannya ke”barokahan” akan suatu barang lebih berarti dari segalanya. Meski tak sebanyak yg dibayangkan sebelumnya, kini aku bisa membantu meringankan beban Bapak, bisa sedikit membuat tersenyum mbah-mbah itu, bisa bikin ponakan senang, dan bisa bikin adek-adek lega.

Semoga dengan apa yang telah aku dapat kini, aku bisa tetap merasa puas seperti puasnya aku waktu bisa beli mie kremez sewaktu SD, bisa beli soto sewaktu SMP, bisa beli mie ayam favorit sewaktu SMU, bisa beli baju agak ber-merk sewaktu kuliah, dan bisa puas berbagi di saat lebih maupun pas-pasan….

(13/10/09)

Kota Sejuta Janji Harapan

Suatu hari, salah seorang teman saya menginformasikan adanya seleksi untuk CPNS di salah sau Departemen. Sungguh tak menyangka bahwasannya moment itu adalah awal perubahan radikal dalam kehidupan saya. Saya pun kemudian iseng-iseng mengikuti tes tersebut. Waktu itu beberapa teman juga ikutan bergabung mencoba, jadi saya tambah semangat mengikutinya. Tes itu merupakan pengalaman pertama juga bagi saya mengikuti seleksi CPNS. Dan alhamdulillah, ternyata saya berhasil lolos seleksi. Waktu mendaftar dan mengikuti tes tersebut, benar-benar saya tidak begitu memikirkan dimana nantinya akan ditempatkan karena memang waktu itu yang saya fikirkan hanyalah bagaimana bisa lolos tes ke tahap-tahap selanjutnya (ada 4 tahap).

Pada akhirnya saya diminta melapor di kantor pusat sebagai syarat diterimanya saya. Meskipun dengan persiapan seadanya, akhirnya saya ditemani calon pendamping saya pergi ke Jakarta untuk melapor. Awalnya kami berencana hanya satu hari saja berada di Jakarta (tanpa menginap). Akhirnya kami berdua berangkat ke Jakarta menggunakan kereta ekonomi karena dana yang terbatas dan niat tak mau merepotkan orang tua.

Itu pengalaman pertama saya menggunakan transportasi kereta. Di kereta kelas ekonomi, keadaanya hampir mirip pasar berjalan. Terutama bila sudah mendekati stasiun Cirebon. Banyak sekali penjual, dari anak-anak hingga kakek-kakek, silih berganti menjajakan barang dagangannya meski dengan susah payah melewati hamparan penumpang yang duduk maupun tidur di bawah kursi penumpang kereta. Barang dagangannya pun bervariasi (sampai saya tak habis fikir beberapa items dijual di situ: dari makanan, minuman, mie, buku TTS, koran, buah, makanan tradisional hingga topi, kerajinan tangan, alat menjahit, jasa tukang pijit, mainan anak, alat mandi, teh Rossela, dll). Keringat dan suara melengking tak lepas dari para pedagang tersebut. Sampai saya benar-benar terenyuh sewaktu ada seorang kakek yg sudah bungkuk dan terlihat sudah lemah secara fisik masih membawa sebaskom penuh kacang rebus seharga seribu per bungkusnya. Rasa kasihan saya terhadap kakek itu tidak sama dengan rasa kasihan terhadap orang yang meminta-minta. Karena ingin menghargai perjuangannya mencari nafkah, akhirnya kami membeli kacang rebus dagangan kakek itu.

Memasuki wilayah Jawa Barat, Karawang, dan Bekasi, perlahan-lahan keadaan di luar kereta sudah mulai berubah. Dari yang tadinya dihiasi penuh dengan kebun, sawah-sawah, dan rumah-rumah sederhana di tengah kebun kini dihiasi dengan perkampungan padat dan tenda-tenda berjajar di sepanjang rel kereta. Segerombolan orang duduk-duduk di sepanjang rel, dan anak-anak berteriak-teriak tidak jelas ke arah kereta. Bau menyengat sudah mulai tercium. Semuanya menjadikan pemandangan baru yg jauh dr kesan asri. Pengamen pun tak henti2nya menyanyikan lagu-lagu dengan menyapa para penumpang di awal dan akhir “pementasannya”. Uang receh segepok yang sudah disiapkan dr rumahpun hampir habis diberikan pada seniman nomaden ini. Perjalanan kali itu dipenuhi hiruk pikuk tanda awal kesibukan ibu kota.

Saat itu, saya yang tak terbiasa mencium bau busuk menyengat, melihat ketidak sejahteraan begitu dekat, mengetahui kepadatan yang luar biasa, hiruk pikuk orang mencari nafkah dengan berbagai upaya, dan mendengar lantunan nada demi sesuap nasi,  merasa tersentak dari kenyamanan yang saya miliki di Jogja.

Saya pun berusaha fokus pada awal tujuan saya datang ke kota ini. Sesampainya di stasiun Senen, hari masih pagi buta. Karenanya, kami memutuskan menunggu hingga matahari menyapa kami. Setelah kira-kira menunggu dengan duduk-duduk selama kurang lebih 3 jam, kami pun keluar dr stasiun. Keramaian belum terasa benar. Akhirnya kami menuju ke Jl. Wahidin dengan sebuah bajaj dan diharuskan membayar biaya tambahan 1000 untuk seorang preman. Setelah tiba di sana, hari masih terlalu pagi untuk aktivitas kantor. Akhirnya kamipun berjalan sejauh kurang lebih sekilo menuju masjid yang sangat terkenal di kota ini. Di sana, kami juga sempat bingung mencari-cari kamar mandi karena saking besarnya bangunan masjid itu.

Setelah membersihkan badan dan berganti pakaian formal, kami berjalan kembali menuju Gedung yang dimaksud. Selama perjalanan, orang-orang yang saya amati mengesankan betapa hectic nya kota ini. Semua orang berjalan cepat seakan berburu dengan detik waktu. Gedung-gedung tinggi berlantai puluhan juga tak sulit didapati. Dalam hati saya berkata……jadi seperti ini ya kota yang punya sejuta cerita itu??? Belum selesai ke-shock-an saya akan kota ini, seorang pegawai di Departemen itu menginformasikan bahwasannya kemungkinan saya akan mulai bekerja pada awal Januari 2009 (itu artinya tinggal beberapa hari lagi). Gleeek…. pikiran saya jadi bingung, kacau, dan berputar-putar memikirkan sempitnya persiapan, cepatnya masuk kerja, bagaimana harus cari tempat kos, belum lagi proses resign di tempat kerja yang lama, ditambah lagi kenyataan bahwasannya saya akan meninggalkan Jogja; kota yang sejak bayi sampai saat itu belum pernah saya tinggalkan dan mengharuskan saya berada jauh dari keluarga dan orang-orang yang saya sayangi…

Kebesaran yang di-Atas akhirnya mengijinkan saya bertemu dengan salah seorang kerabat jauh yang ternyata rumahnya dekat dengan tempat saya bekerja. Kerabat saya inipun sungguh luar biasa dalam membantu dan memberikan kehangatan keluarga kepada saya selama proses adaptasi di kota metropolis ini. Akhirnya saya pun mencari tempat kost yang tak jauh dr kerabat saya tersebut dan bertemu salah seorang teman yang sama-sama dr Jogja. Ternyata daerah tempat kost tersebut juga banyak dihuni oleh pegawai di sana. Itulah salah satu kemudahan jalan yang Allah SWT berikan pada saya.

Saat ini, sudah hampir 8 bulan saya berada di kota ini. Kota yang katanya menjanjikan berjuta-juta harapan bagi mereka yang ingin mencapai “kesuksesan” hidup. Banyak orang dari daerah rela meninggalkan kampung halamannya demi mencari harapan yang lebih baik, meski kadang harus dibayar dengan tinggal di sebuah kota yang ruwet, padat, semrawut, dan tinggal bersama orang-orang yang materi-oriented. Kadang saya berfikir, apakah pengorbanan tersebut setimpal dengan apa yang akan diperoleh di kota ini.

Saya sendiri juga kadang-kadang merenung dan terasa seperti mimpi saja berada di kota ini, jauh dari Bapak Ibu Adek-adek, keluarga besar, calon pendamping, teman-teman, dan kota kelahiran saya. Lalu, apakah pengorbanan saya ini setimpal dengan pengorbanan yang harus saya lalui ini? Jauh dari keluarga, pacar, berjuang untuk survive dengan income sementara ini yang pas-pasan, beradaptasi dengan semua keruwetan di sini, beradaptasi dengan orang-orang penghuni kota ini… Jawabannya adalah belum. Ya, belum. Saat ini saya masih belum merasa pengorbanan saya untuk hijrah ke sini belum setimpal dengan apa yang saya harapkan. Hak saya sebagai seorang pegawai belum saya dapatkan secara penuh, saya belum bisa menikmati keindahan kota ini, saya belum bisa mengejar mimpi saya, saya belum bisa menyokong keluarga saya, saya belum bisa membantu kesusahan kerabat saya.

Akan tetapi, saya masih memiliki harapan. Harapan yang membuat saya masih bertahan di sini untuk berjuang dan mengabdi. Setidaknya, saya telah merasakan hijrah, mandiri, masih bisa merasakan hangatnya suasana keluarga, support dari orang-orang yang mencintai saya, dan beribu-ribu kemudahan yang ALlah berikan dalam setiap langkah saya di atas tanah ibu kota ini.

Semoga harapan ini, masih tumbuh segar dan akan masih tumbuh sampai usia senja….

21/08/09

Besyukur

Hari ini seorang kawan bercerita tentang kegundahannya tentang hubungannya dengan seorang perempuan. Dan dia berkonsultasi dengan saya dan satu lagi teman kerja (seorang ibu) yang usianya sudah cukup matang dan tentunya beliau sudah makan asam garam dan pahit getirnya hidup. Pada akhirnya konsultasi diakhiri dengan berbagi pengalaman dari sang ibu tentang pengalaman hidupnya.

Si ibu menasehati teman saya untuk tetap bersyukur dengan keadaan yang sekarang dijalani meski pastinya ada kekurangan dan kepahitan hidup. Dulu si ibu pernah juga mengalami pasang surutnya kehidupan. Tapi bagaimanapun dia tetap bersyukur dengan apa yang telah diberikan yang di-Atas untuknya.

Kini beliau bisa mengambil sisi positif dari kejadian sewaktu usaha sampingannya tiba-tiba amblas dan merugi karena ditipu orang. Si ibu bilang andaikata usahanya tetap jalan dengan sukses mungkin beliau akan menjadi orang yang sombong akan harta dan tidak fokus dengan pekerjaan utamanya yang telah diamanatkan.  Begitu pula ketika si Ibu akhirnya memutuskan hubungan dengan sang kekasih hati yang telah sekian tahun terjalin karena perbedaan prinsip. Awalnya memang begitu menyakitkan dan kekecewaan pun tak dapat dihindari. Tapi beliau berusaha berfikir logis bahwasannya hubungan tersebut tak mungkin dilanjutkan meski Ibu ini begitu mencintai sang kekasih hati. Setelah sekian lama dilalui, si Ibu melihat sisi positif dari keputusannya dulu. Jika dia tetap bersama kekasihnya terdahulu maka cintanya akan berlebihan dan tak akan pernah bisa bersikap mandiri.

Rasa syukur telah mengantarnya pada imbalan yang tak kan pernah ia bayangkan sebelumnya. Kini, meski tidak lagi menjadi seorang pembisnis sebagai pekerjaan tambahan dan tak mendapatkan extra income yang se-wah dulu, beliau telah mendapatkan gantinya yaitu dengan menjadi seorang pengajar. Hatinya lebih tentram dengan mengajar dan pikiran pun lebih rileks bila dibandingkan ketika dulu menjalani bisnis yang selalu membuatnya diikuti rasa khawatir dan pikiran yang terbebani. Baginya, mengajar bisa menjadi hiburan sekaligus mengamalkan ilmu yang telah dimilikinya kepada orang lain. Memang, pendapatannya tak seberapa tapi bukan itu semata-mata tujuannya. Ada satu kalimat yang begitu terpatri dalam ingatan saya. Sang Ibu berkata: “Mbak… kalau cuman cobaan harta itu tidak seberapa”. Begitu mendengar kalimat ini, hati saya terenyuh sekaligus kagum. Tidak mudah bagi semua orang untuk mengatakannya apalagi di jaman yang sudah seindividualis dan matrealistis ini.

Ya, bersyukur memang kunci dari semua keihlasan untuk menjalani hidup kita. Si ibu dapat menjalani semua cobaan hidupnya karena tak pernah terucap kata-kata yang mengeluhkan keadaan yang diterimanya. Saya jadi teringat kata-kata seorang motivator sekaligus salah satu pengarang buku “Fight like a Tiger Win like a Champion’, Imam Munadi, di suatu acara pembekalan mental di tempat kerja saya.  Pak Imam mengatakan bahwasannya untuk mencintai dan menjadi optimal dalam bekerja salah satu caranya adalah kita harus bersyukur dan ciri orang bersyukur adalah dengan Tidak Mengeluh.  Semoga hari-hari yang kita lewati selalu diawali dengan tidak mengeluh  sehingga menjadikan kita menjadi hamba yang bersyukur.

31/07/09

Pasangan Jiwa

Beberapa teman saya yang masih single mengeluhkan betapa susahnya mendapatkan calon pendamping hidup. Apalagi di saat seperti ini, kita sudah sibuk bekerja dan praktis lingkungan sosial sudah sangat terbatas. Sebagian besar waktu kita habiskan di kantor, pulang ke kos atau rumah sudah malam. Itupun langsung menuju kamar untuk istirahat. Paling-paling weekend yang masih bisa digunakan untuk menjalin silaturrahmi dengan teman-teman. Itupun dengan teman-teman yang jumlahnya sudah terbatas.

Ternyata memang benar, di saat kita sudah bekerja prosentase untuk mendapatkan pasangan jauh lebih kecil dibandingkan sewaktu kita masih sekolah/ kuliah. Penyebabnya mungkin:

pertama, jumlah teman menjadi lebih sedikit. Kedua, jumlah teman yang masih single sangat terbatas (kebanyakan sudah menikah atau paling tidak sudah punya calon). Ketiga, interaksi dengan orang baru menjadi terbatas. Keempat, waktu berinteraksi menjadi berkurang (dan kebanyakan dunia kerja membuat orang jadi lebih egois- dalam artian berinterkasi karena kebutuhan, tidak seperti sewaktu kita kuliah yang kemana-mana bersama, bercanda, dan bercengkrama dengan bebas tanpa ditumpangi maksud-maksud tertentu….

Apalagi di saat usia yang sudah menginjak 24 ke atas, tentunya tuntutan untuk segera memiliki pasangan semakin tinggi, baik dari lingkungan sosial maupun orang tua. Terutama bagi mereka kaum hawa. Yang sudah pasti terbentur dengan umur ideal untuk menikah. Kaum adam lebih bisa bernafas lega karena masyarakat kita lebih bisa menerima  jika ada pria lajang berumur dibandingkan bila ada wanita berumur yang belum menikah…

Jadi beruntunglah mereka yang kini sudah memiliki pasangan dan calon pendamping hidup. Maka bersyukurlah dengan apa yang sudah didapat sekarang. Jangan sampai kita tidak mensyukuri nikmat yang telah diberikan oleh yang di-Atas dengan mengabaikan orang yang telah kita pilih. Dan kalau begitu, sayapun merupakan salah satu orang yang beruntung :)

Bagi mereka yang belum menemukan soulmate nya, bersabarlah…. Nikmati status single-nya karena tidak sepenuhnya memiliki pasangan berarti bahagia selamanya. Mungkin mencari pasangan diibaratkan seperti ‘menggenggam air di atas telapak tangan kita”. Kalau terlalu kencang menggenggamnya maka malah akan lepas tapi kalau dibiarkan saja juga tanpa berbuat apa-apa dan pasrah juga tak akan mendapatkan apa-apa. Yang penting slowly but surely….  dan semoga kita mendapatkan orang yang tepat di saat yang tepat pula. Selamat berjuang!

02/07/09

Bekerja VS Berekreasi

Berapa lama kita menghabiskan waktu di kantor? Sehari minimal kita berada di kantor 8-10 jam dari 24 jam yang kita miliki. Sedangkan waktu tidur kita 6-8 jam. Andaikata rata-rata sehari kita tidur 8 jam sehari berarti waktu sadar kita adalah 16 jam dan kita akan menghabiskan katakanlah 9 jam berada di kantor atau kurang lebih 56% dr waktu kita untuk berada di kantor! Lebih dari separuh waktu kita, kita habiskan untuk bekerja [paling tidak berada di kantor!!].

Dan pertanyaannya adalah “Apakah kita merasa enjoy menghabiskan lebih dari separo waktu kita berada di kantor?” Dan pakah kita menikmati dari setiap detik yang kita habiskan di kantor? Apakah kita melakukan setiap pekerjaan kita dengan hati riang? Apakah kita merasa terbayang-bayang apa yang telah dan akan kita lakukan di kantor?”

Berbahagialah orang-orang yang merasa enjoy melakukan pekerjaannya dan setiap jam yang mereka habiskan di kantor berasa hanya seperti beberapa detik. Berbahagialah mereka yang bisa mendapatkan kepuasan batin dari apa yang telah mereka lakukan di profesi mereka. Mengutip ungkapan dari Bung Andy F Noya: “Berbahagialah mereka yang menikmati pekerjaannya. Berbahagialah mereka yang sudah mencapai taraf bekerja adalah berekreasi. Sebab mereka sudah menemukan lentera jiwa mereka.”

Apa yang bung Andy katakan memang benar. Terkadang kita bekerja bukan karena kebutuhan jiwa tetapi semata-mata hanya kebutuhan fisik dan mungkin juga sosial. Sudah cukup puas dengan nominal angka yang ada di depan mata meski terkadang apa yang dijalani tak sesuai angan-angan dan mimpi. Cukup puas dengan tenggelam dalam rutinitas sehari-hari.

Berbanggalah mereka yang berani mengambil langkah untuk mengejar cita-cita nya meski orang lain menganggap apa yang dikejarnya tak sebanding dengan apa yang ditinggalkannya. Berbanggalah mereka yang berani mengorbankan kenyamanannya demi meraih kepuasan batin. Dan beruntunglah mereka yang mampu menikmati setiap detik pekerjaan mereka seakan mereka berekreasi sepanjang hari.

Seperti contohnya Zara Zettira, penulis buku dan skenario, atau Raditya Dika, yang meninggalkan kuliah finance nya di Australia dan akhirnya tekenal karena tulisan di blog-nya. Mereka berani meninggalkan bangku kuliah dan mengejar mimpi mereka untuk menjadi penulis. Demikian pula Izza M Ihsan, penulis buku “Dunia Tanpa Sekolah” seorang anak yang berani meninggalkan bangku sekolah SMP karena merasa dia bisa mengejar mimpi-mimpinya sebagai penulis tanpa harus berada di sekolah yang malah mengungkungnya.

Saya mungkin termasuk orang yang tidak seberani mereka. Saya tidak sepercaya diri seperti mereka. Sebenarnya saya memiliki mimpi untuk membangun sekolah play group dan TK sederhana bagi anak-anak yang tidak mampu dan bisa menjadi salah satu pengajarnya. Mengajar merupakan salah satu aktivitas yang saya nikmati terutama mengajar anak-anak. Saat ini, di pekerjaan yang saya miliki sekarang belum memberikan kesempatan untuk melakukannya. Tapi saya juga tidak bilang saya tidak enjoy denga pekerjaan yang saya tekuni sekarang. Bekerja di dalam ruangan dan kadang-kadang melakukan clerical jobs merupakan pekerjaan yg saya bayangkan sewaktu sekolah dulu. Apalagi di sini saya juga bisa menulis.

Tapi memang terkadang apa yang saya lakukan ini belum membawa saya menemukan lentera jiwa saya. Semoga suatu saat saya bisa memiliki keberanian untuk menemukan dan meraihnya…..Amin.

02/07/09

Keterikatan Hati

Manakala kasih sayang di depan mata
Aku sering kali buta mata
Takkan pernah tahu seberapa dalamnya
Dan takkan pernah tahu seberapa kuatnya

Sebuah keberuntungan kecil menghampiri
Di kala jarak, ruang, dan waktu berdiri
Di kala aku bermain hati
Dengan mereka yang bersimpati

Kini aku tahu betapa engkau
Menyayangiku lebih dari yang kumau

Menahanku…
Berbuat sesuka hatiku
Dan akupun jadi malu

Maafkan aku sayang
Yang tlah membiarkan diriku menerawang
Bercengkrama dengan bayang-bayang
Manakala kasih sayng hanya dirasakan
Oleh sebuah ketulusan dan keikhlasan
Keterikatan hatipun
Menyempurnakan
Cinta yang mendalam

Jakarta, 15 June 09

MENGHARGAI SESEORANG

Hari ini saya begitu sedih dan terpukul ketika saya merasa terabaikan oleh seseorang yang sebenarnya sangat saya sayangi. Memang, waktu tak dapat diputar kembali. Kesempatan tak bisa diperbaharui dan kesalahan tak ayal dihindari karena kepicikan dan ego yang kadang merajai pikiran kita.

Baru saya sadar, betapa dia sangat berharga dalam kehidupan saya. Betapa saya sangat membutuhkan dukungannya. Betapa saya sangat merindukan kasih sayangnya. Tapi perasaan ini seolah-olah mati hanya karena ego mempertahankan sesuatu yang sama sekali tak berharga jika harus dibandingkan dengan kehilangan yang aku rasakan. Kehilangan semangat dan rasa dikasihi. Kehilangan gurau canda manja yang biasa menemani.

Kata maaf tidak akan pernah cukup mengobati luka yang sudah terlanjur menganga di hati. Maafkan aku sayang….Kebijakan rupanya ilmu yang sangat sulit kupelajari. Kepekaan rupanya menjadi sesuatu yang sangat mahal yang harus kumiliki. Aku mengerti jika sekarang dirimu tak mampu lagi memaklumi kesalahanku…. Aku mengerti jika kini dirimu terasa enggan berhubungan denganku. Memang itulah buah yang harus kupetik dari sifat egoisku. Menuntut ..menuntut tanpa memberi dukungan…..

Seringkali kita tidak pernah bersyukur dengan keadaan yang kita hadapi. Seringkali kita masih saja tidak puas dengan apa yang telah kita miliki. Seringkali kita tak pernah “menghargai” dengan sunguh-sungguh orang-orang di sekeliling kita yang menyanyangi kita, walau bagaimanapun keadaan yang sedang kita hadapi. Alloh telah menganugerahi orang-orang di sekitar kita dan Alloh telah menunjuk beberapa diantaranya untuk menjadi bagian dari kehidupan kita. Tapi kita seringkali buta dan mencari-cari yang lain padahal yang kita cari sudah ada di depan mata.

Tapi aku juga tetap berbaik sangka kepada sang Khaliq, semua ini akan tetap menjadi sia-sia dan kerugian jika aku tak dapat belajar dari pengalaman ini. Karena itu, aku tetap berdoa semoga aku diberi petunjuk untuk dapat belajar dari kesalahanku dan menjadikannya orang yang lebih bijaksana. I love you honey…. Sorry is never enough to pay my mistake but at least sorry represents what I feel now….

RELATIONSHIP

Ketika menjelang makan siang di kantor, salah satu rekan bercerita tentang kehidupan rumah tangganya. Dia hidup terpisah dengan suaminya karena suaminya bekerja di lain pulau. Alhasil, intensitas bertemu dg suami tidak optimal meski komunikasi bisa terus terjalin.

Rekan saya ini bercerita kalau hubungannya dengan suaminya meski “baik-baik” saja terasa hambar atau flat. Mungkin seperti orang bilang kaya’ gak ada “greget”nya. Saya jadi berfikir ‘di mana yang salah?’. Meski memang mereka berdua hidup terpisah, tetapi rekan saya tetap berusaha melakukan komunikasi secara rutin dan selama ini setiap masalah berusaha dicarikan solusinya.

Mendengar cerita ini, saya jadi teringat perkataan rekan dekat saya yg pernah menayakan hubungan saya dengan ibu saya. Saya jawab ‘biasa-biasa saja’. Memang benar hubungan saya dg ibu biasa-biasa saja atau baik-baik saja. Awalnya saya merasa tidak ada yg salah dg itu. Toh saya dengan ibu juga tidak ada problem. Setelah beberapa lama saya renungkan, ternyata memang ada yang kurang. “Ketulusan”. Itulah yg hilang dari hubungan saya dg ibu saya.

Hubungan saya dan ibu awalnya hanya sebatas: dia ibu dan saya anaknya yg kebetulan masih tinggal dalam satu atap. Saya memang mencintai ibu saya dan saya juga yakin ibu saya pasti juga mencintai saya tetapi alasan mengapa saya mencintai ibu saya, selain karena dia ibu saya, masih agak sulit untuk saya jawab. Mungkin inilah sebab mengapa hubungan saya dan ibu menjadi biasa-biasa saja.

Hal ini mungkin tidak hanya terjadi dengan hubungan saya dengan ibu tapi juga dengan saudara kandung saya, Bapak saya, keluarga besar, teman-teman saya, dan bahkan Tuhan saya. Terkadang, meski saya menjalankan ibadah sesuai syariat; sholat, puasa, zakat, dst; saya masih merasa saya belum dekat dg yang di Atas. Mengapa?

Beberapa saat saya fikirkan, saya sampai pada kesimpulan bahwasannya “ketulusan” atau mungkin lebih religi kalau dikatakan “keikhlasan” tidak ada dalam hati saya saat saya menjalin hubungan dengan Tuhan, ibu, bapak, dll. Itulah sekarang yang saya coba perbaiki. Saya mencoba mulai dengan alasan mengapa saya harus beribadah, mengapa saya harus menyembah Tuhan saya, mengapa Ibu saya perlu dicintai, mengapa saya harus menghargainya, mengapa saya semestinya mengeti orang lain dst.

Mungkin dengan tahu ‘hakikat’ nya, saya jadi lebih mencintai Tuhan, Ibu, dan orang-orang di sekitar saya. Saya berharap nantinya akan ada ikatan batin yang lebih kuat dengan Tuhan maupun orang-orang yg saya cintai. Memang tidak mudah, tapi hidup adalah sebuah proses.

Jogja

April 8, 2008

10:00


ORANG TUA -ANAK (taken from www.yauhui.net)

Suatu hari suami saya rapat dengan beberapa rekan bisnisnya yang kebetulan mereka sudah mendekati usia 60 tahun dan dikaruniai beberapa orang cucu. Di sela-sela pembicaraan serius tentang bisnis, para kakek yang masih aktif itu sempat juga berbagi pengalaman tentang kehidupan keluarga di masa senja usia.

Suami saya yang kebetulan paling muda dan masih mempunyai anak balita, mendapatkan pelajaran yang sangat berharga, dan untuk itu saya merasa berterima kasih kepada rekan-rekan bisnisnya tersebut. Mengapa? Inilah kira-kira kisah mereka.

Salah satu dari mereka kebetulan akan ke Bali untuk urusan bisnis, dan minta tolong diatur tiket kepulangannya melalui Surabaya karena akan singgah kerumah anaknya yang bekerja di sana .

Di situlah awal pembicaraan “menyimpang” dimulai. Ia mengeluh,

“Susah anak saya ini, masak sih untuk bertemu bapaknya saja sulitnya bukan main.”

“Kalau saya telepon dulu, pasti nanti dia akan berkata jangan datang sekarang karena masih banyak urusan. Lebih baik datang saja tiba-tiba, yang penting saya bisa lihat cucu.”

Kemudian itu ditimpali oleh rekan yang lain.

“Kalau Anda jarang bertemu dengan anak karena beda kota, itu masih dapat dimengerti,” katanya.

“Anak saya yang tinggal satu kota saja, harus pakai perjanjian segala kalau ingin bertemu.”

“Saya dan istri kadang-kadang merasa begitu kesepian, karena kedua anak saya jarang berkunjung, paling-paling hanya telepon.”

Ada lagi yang berbagi kesedihannya, ketika ia dan istrinya mengengok anak laki-lakinya, yang istrinya baru melahirkan di salah satu kota di Amerika.

Ketika sampai dan baru saja memasuki rumah anaknya, sang anak sudah bertanya,”Kapan Ayah dan Ibu kembali ke Indonesia?”

“Bayangkan! Kami menempuh perjalanan hampir dua hari, belum sempat istirahat sudah ditanya kapan pulang.”

Apa yang digambarkan suami saya tentang mereka, adalah rasa kegetiran dan kesepian yang tengah melanda mereka di hari tua. Padahal mereka adalah para profesional yang begitu berhasil dalam kariernya.

Suami saya bertanya,

“Apakah suatu saat kita juga akan mengalami hidup seperti mereka?”
Untuk menjawab itu, saya sodorkan kepada suami saya sebuah syair lagu berjudul Cat’s In the Cradle karya Harry Chapin. Beberapa cuplikan syair tersebut saya terjemahkan secara bebas ke dalam bahasa Indonesia agar relevan untuk konteks Indonesia .

Serasa kemarin ketika anakku lahir dengan penuh berkah. Aku harus siap untuknya, sehingga sibuk aku mencari nafkah sampai ‘tak ingat kapan pertama kali ia belajar melangkah. Pun kapan ia belajar bicara dan mulai lucu bertingkah.

Namun aku tahu betul ia pernah berkata,

“Aku akan menjadi seperti Ayah kelak”

“Ya betul aku ingin seperti Ayah kelak”

“Ayah, jam berapa nanti pulang?”

“Aku tak tahu ‘Nak, tetapi kita akan punya waktu bersama nanti, dan tentu saja kita akan mempunyai waktu indah bersama”

Ketika saat anakku ulang tahun yang kesepuluh; Ia berkata,

“Terima kasih atas hadiah bolanya Ayah, wah … kita bisa main bola bersama. Ajari aku bagaimana cara melempar bola”

“Tentu saja ‘Nak, tetapi jangan sekarang, Ayah banyak pekerjaan sekarang”

Ia hanya berkata, “Oh ….”

Ia melangkah pergi, tetapi senyumnya tidak hilang, seraya berkata, “Aku akan seperti ayahku. Ya, betul aku akan sepertinya”

“Ayah, jam berapa nanti pulang?”

“Aku tak tahu ‘Nak, tetapi kita akan punya waktu bersama nanti, dan tentu aja kita akan mempunyai waktu indah bersama”

Suatu saat anakku pulang ke rumah dari kuliah; Begitu gagahnya ia, dan aku memanggilnya, “Nak, aku bangga sekali denganmu, duduklah sebentar dengan Ayah”

Dia menengok sebentar sambil tersenyum,”Ayah, yang aku perlu sekarang adalah meminjam mobil, mana kuncinya?”

“Sampai bertemu nanti Ayah, aku ada janji dengan kawan”

“Nak, jam berapa nanti pulang?”

“Aku tak tahu ‘Yah, tetapi kita akan punya waktu bersama nanti dan tentu saja kita akan mempunyai waktu indah bersama”

Aku sudah lama pensiun, dan anakku sudah lama pergi dari rumah;

Suatu saat aku meneleponnya.

“Aku ingin bertemu denganmu, Nak”

Ia bilang,”Tentu saja aku senang bertemu Ayah, tetapi sekarang aku tidak ada waktu. Ayah tahu, pekerjaanku begitu menyita waktu, dan anak-anak sekarang sedang flu. Tetapi senang bisa berbicara dengan Ayah, betul aku senang mendengar suara Ayah”

Ketika ia menutup teleponnya, aku sekarang menyadari; Dia tumbuh besar persis seperti aku;

Ya betul, ternyata anakku “aku banget”.

Rupanya prinsip investasi berlaku pula pada keluarga dan anak. Seorang investor yang berhasil mendapatkan return yang tinggi, adalah yang selalu peduli dan menjaga apa yang diinvestasikannya.

Saya sering melantunkan cuplikan syair tersebut dalam bahasa aslinya,
“I’m gonna be like you, Dad, you know I’m gonna be like you”,

kapan saja ketika suami saya sudah mulai melampaui batas kesibukannya.

Source: www.yauhui.net